Aku dan keagamaan sudah bersatu dari sananya. Lahir di keluarga yang beragama namun tidak menghidupi, dan bertumbuh di keluarga yang sama namun bernafas lewat ritual agama yang dilakukan. Dalam kata lain yang lebih simple, aku anak pendeta. And a proud one. Tidak banyak anak pendeta yang bangga untuk mengakui nya. Percayalah, aku pun dulu juga begitu. Berkutat di area gengsi, tertekan, malu, dan tidak memahami peran yang dijalankan.
Hidup di era milenial membuat kami, kaum 'religius', terkadang merasa tertekan. Berkembang nya dunia media sosial yang menjadi platform berbagi orangtua kami, membuat peran kependetaan serta figur kami menjadi, well you can say, ternama. Jangan pikir ini merupakan fenomena yang menyenangkan. Of course it's pleasing, people know and will definitely like you. Namun ini membuat kami menjadi terjerumus dalam dunia persaingan 'rohani' dan menjadi perangkap rohani yang menjebak kami dalam skema dunia popularitas. Sudah bisa khotbah blum? Sudah bikin album rohani blum? Sudah jadi kekinian blum? I got this questions A LOT--implicitly. Sebenarnya, apa hubungan anak pendeta dengan ikutan jadi pendeta? Apa hubungannya punya orangtua hamba Tuhan 'ternama' (that term actually confuses me) dengan jadi ikutan terkenal? Terlalu banyak pertanyaan dan tuntutan untuk kami, para anak pendeta.
Beranjak dewasa dan semakin lama semakin menghidupi kependetaan ini membuat aku banyak mengambil waktu berpikir dan observing. Sudah satu tahun sejak Ayah dan Ibu secara sah menjadi salah satu tim pastoral gereja kami. Satu sisi aku senang, tentu! Hampir 3 tahun aku hidup melayani tanpa benar-benar merasakan satu gereja dengan mereka. Hal ini karena kesibukan juga jadwal mereka yang khotbah keliling. Sisi lainnya apakah ini menjadi beban? TENTU. I'm not sugar-coating anything, it's one heck of a ride. Apalagi menjadi anak paling dewasa diantara anak-anak gembala yang lain. But am I blessed? ABSOLUTELY 100 PERCENT! Aku sungguh bersyukur mendapat kasih karunia dari yang Kuasa untuk mencicipi dan menghidupi perjalanan ini. Antara lain ini adalah sebuah tanggung-jawab dan pemberian baru dari Tuhan karena kapasitas hatiku yang makin besar. Namun tantangannya luar biasa.
Pada satu tahun pertama Ayah dan Ibu menjadi tim pastoral, atau wakil gembala, aku mengambil 1000 langkah mundur dari kehidupan normalku. Pergaulan, lifestyle, hubungan dan sebagainya. Aku merasa aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru ini. Aku harus berpikir 200x dalam bertindak. Menjadi anak pendeta menaruh dirimu pada posisi nanggung, posisi di tengah. Bukan ke kanan, tidak juga ke kiri. Kamu akan melihat hal-hal yang sebenarnya, tanpa bisa mengutarakan semuanya. Mengalami politik gereja, namun tidak terlibat didalamnya. Menjalani ini semua membuat aku maklum dengan teman-teman sesama anak pendeta yang memilih jalan hidupnya berbeda dengan orangtua mereka. Pasti perih menjadi mereka, dituntut banyak hal yang terkadang diluar batas kemampuan mereka. Sekarang banyak anak pendeta yang hilang arah. Kalau tidak jadi sangat rohani, yaa jadi binal. Aku kenal satu dua teman yang hamil diluar nikah, sedangkan orangtua nya adalah rohaniawan ternama. Aku turut bersimpati atas setiap konflik kehidupan yang teman-temanku alami, aku menyayangkan semua itu. Namun aku juga sedih akan setiap penghakiman yang mereka alami.
Aku sedang membaca buku The Grace Awakening karangan Charles R. Swindoll. Di belakang buku nya tertulis kalimat "Have we forgotten the meaning of Grace?" Pertanyaan yang sama juga pantas kami, anak pendeta dan anda, kristiani untuk menjawab. Masih adakah kasih karunia untuk kami? Masih pantaskah kami mendapat kasih karunia itu? Tidak sedikit saudara kami pemeluk agama Kristen yang menunjuk semua hal yang kami, anak pendeta, lakukan maupun yang tidak kami lakukan. Tuntutan untuk mengikuti jejak orangtua membuat kami merasa tertekan, bahkan menjadi judgements atas kehidupan dan arah jalan kami. Tidak khotbah seperti Ayah atau Ibu kami, dianggap tidak rohani. Namun berkarya di bidang yang berbeda menimbulkan pertanyaan, kenapa tidak rohani? See, it's hard to live our lives as a Pastor's kid. Tapi bukan berarti itu mustahil.
Menjalani hidup sebagai Pastor's Kid, aku memutuskan untuk membuat blog-series ini yang berjudul #AnakPendeta. Bukan untuk menjadi
Berjanjilah untuk melihat kami, anak pendeta, sebagai manusia.
Berjanjilah untuk melihat kami, anak pendeta, sama seperti anak-anakmu.
Berjanjilah untuk melihat kami, anak pendeta, sebagai individu yang memiliki hati dan panggilan dari Tuhan sama seperti kamu.
Cerita-cerita ku kedepan mungkin akan membuka mata, mungkin akan menyindir (tanpa sengaja) satu atau dua pihak. Namun satu tujuan ku hanya ingin membagikan bagaimana ditengah naik-turun nya perjalanan kami sebagai anak pendeta, kami masih dan akan terus mengalami kasih karunia sama seperti kamu. Kami, juga sama sepertimu.
Untukku, tidak ada yang salah menjadi anak pendeta. Dan tidak ada yang salah untuk bangga menjadi anak pendeta. Aku bangga menjadi anak pendeta karena aku bangga atas Tuhan yang ada didalamku, aku bangga atas setiap keputusanku dalam mengikuti kehendak Tuhan, aku bangga mengambil tanggung jawab yang ditawarkan Tuhan dalam memimpin dan menginspirasi banyak orang. Aku bangga atas setiap kejatuhanku, karena aku tau aku akan bangun kembali. Aku bangga dengan setiap ketegasanku dalam kebenaran, karena aku menghidupi kehidupan yang Tuhan beri. Aku bangga untuk mengatakan bahwa aku anak pendeta.
keep writing ceu
ReplyDelete-adiq