Monday, January 16, 2017

Denial & Acceptance #AnakPendeta

You don't get to choose who you are. Dari mana kamu berasal, siapa orangtua mu, kamu lahir dengan sebuah titik awal yang ditentukan. Setiap orang berbeda-beda, tapi aku lahir dibawah sayap pelaku agama. Ayahku dulunya Muslim namun sekarang seorang Kristiani tengah mendalami ilmu Konseling Pastoral. Ibu merupakan seorang Kristiani sejak lahir, kini menjadi ibu dari ratusan bahkan ribuan anak. Keduanya kini menjalani sebuah tugas penggembalaan di salah satu gereja di Jakarta Selatan. Aku lahir dimasa transisi mereka dan dibesarkan menjadi seorang anak pendeta.

Aku juga lahir dengan sebuah ketakutan yang akut. Aku takut ditolak. Entah apa yang terjadi selama aku masih didalam rahim ibu, namun bayang penolakkan membuat aku muak dan resah. Sejak kecil seperti naluriku untuk berjuang hidup mendapat penerimaan. Diterima lingkungan, diterima teman, diterima dosen, diterima gereja, diterima Tuhan. I became this easy-going girl, having 1001 ways to adjust in a society. I can fit in anywhere. Sebut saja, lingkungan pintar? Lingkungan rohani? Orang tua? Anak kecil? Aku tumbuh besar mendalami semua peran dan semua orang. Diterima di semua kalangan membuat aku takut ditolak satu kalangan. Hal ini membuat aku tumbuh tidak nyaman dengan siapa diriku, anak pendeta. Kamu pikir kami lahir dengan mantap akan mengikuti jejak orang tua kami? Kamu bermimpi. Tentu saja tidak! Aku tumbuh dengan mimpi ingin berseni, merantau ke kota lain, dan memulai hidupku sendiri. I was a mess back then, I don't even know who I am. Ada masa-masa dimana aku membuat diriku terlihat sangat rebellious like don't give a damn about anything. Aku ingat waktu itu aku masih umur 6 tahun, untuk berdoa di tempat umum saja aku malu. Hahaha seperti film ya? Memang begitu adanya. Aku malu mengakui ayah ibu ku seorang pendeta karena aku takut aku yang dikucilkan, karena terlalu rohani, terlalu agamis, dianggap tidak bisa menyatu, terlalu diatas awan. 

Mengapa keyakinan membuat orang lain mendapatkan hak untuk bersikap semaunya terhadapku? Bukankah kita tinggal di negara demokratis dimana setiap orang berhak memiliki keyakinan dan pendapatnya, bebas mengutarakan, dan berhak dihargai? Mengapa perbedaan keyakinan membuat penghargaan dan toleransi itu hilang?

Anyways, takut penolakkan itu tidak hilang begitu saja. Bahkan hingga detik ini akupun masih terus bergulat dengan hal tersebut. Karena ya kita lihat saja, semakin banyak penghakiman disekitar kita bukan? Seseorang hidup dengan status dan keyakinan tertentu, lalu "dihujat" dengan perilaku-perilaku "bercanda" kecil tanpa disadari memojokkan pribadi tertentu, padahal kehidupannya positif-positif saja. Jujur tidak mudah menjadi anak pendeta. Hidup di tengah beragamnya budaya dan keyakinan, berjuang untuk bertahan dalam prinsip hidupnya, berhadapan dengan respon-respon negatif sekitar, judgements & tuntutan tidak masuk akal, diiringi dengan tanggung jawab yang tidak kalah besar dengan orangtua kami..kehidupan ini tidak mudah. Setidaknya untukku.

Sampai bulan Agustus 2016. Ya baru saja tahun lalu, aku bisa perlahan menerima diriku sendiri. Aku sadar the more I seek for acceptance, the more I will lose it. But the more I accept who I am made of, the more I am secured. Kehidupan membuat aku menerima diriku apa adanya ketika justru aku ditengah ketidakadilan, penghakiman, and all the other dirty things. Aku mulai mengerti mengapa aku diciptakan demikian ketika aku melihat dampak yang lahir dari kehidupan sekitarku. Mungkin ini cara Tuhan untuk meyakinkan diriku sendiri. Aku mulai bisa berbangga tentang Dia yang ada dalam kehidupan kami sehari-hari. Aku mulai bisa melakukkan tanggung jawabku dengan keberanian. Jujur untuk menulis ini saja aku sebenarnya sedikit takut, karena meng-expose hal yang tidak pernah aku ungkit sekalipun. Namun aku sadar harus ada sesuatu yang dikeluarkan dalam diriku saat ini. Setiap ketakutanku adalah sebuah kekuatan, tergantung dari sisi mana kamu melihat nya. 

Aku mulai bisa melihat kehidupanku ini sebagai anak pendeta sebagai sebuah anugrah. Siapa aku, ayahku, ibukku, adikku, abangku, hingga kami mendapat kepercayaan yang saat besar ini? Aku tidak sempurna, jelas. Namun ada sesuatu yang Dia lihat yang membuat aku bisa menjalaninya. Aku melihat posisiku memudahkan aku untuk menyentuh hati orang, memberikan inspirasi dan mendapatkan inspirasi, memberikan nuansa positif, which I always loved. 

Namun tidak mudah berada di tengah lingkungan yang membeda-bedakan. "Ya kamu anak pendeta sih ya gak bisa bikin blablabla." "Ya kamu anak pendeta sih ya rohani banget." Like any of those things even make sense. We are human for God's sake! Of course we can do things, of course we're all spiritual like are you even kidding me? Hal itu adalah kehidupan ku sehari-hari. Dianggap terbelakang karena status, dianggap berbeda karena status. Aku belajar mendapat penerimaan ditengah penolakkan. Aku belajar bertahan kepada siapa diriku. 

Menjadi anak pendeta membuat kami belajar untuk menerima orang lain, seperti kami menerima diri kami sendiri. Dengan segala perbedaan yang ada, kami belajar untuk menghargai satu sama lain. Kami belajar menerima setiap kekurangan bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini, hanya Tuhan yang sempurna. Aku belajar dengan menerima bahwa aku seorang anak pendeta membuat kamu tidak lebih rendah, atau lebih tinggi dari ku. Aku belajar untuk menerima penolakkan. Aku belajar untuk menerima apapun pendapat orang mengenai kami. 

Karena pada akhirnya bukan apa yang kami percayai atau yang kami pegang yang menentukan kualitas hidup, namun apa yang kami lakukan. Percuma menjadi anak pendeta tanpa menghidupi imannya sendiri, percuma juga menjadi seorang manusia tanpa menghargai hak manusia lainnya. Aku, kamu, kita, we are all the same. We are all trying to live out or lives, surviving every single day that has be given to us. 

I learned my lesson that acceptance is not to be earned, but to be done. You don't wait for anyone to accept you, you gotta accept yourself. God accept you for who you are unconditionally, why denying what He has trusted to you?


Denial is the biggest pride that only acceptance, the highest form of humility, that could make the change to true freedom. 



No comments:

Post a Comment

© EMMA MONTEZ
Maira Gall