Showing posts with label Hikmah Sidang Akhir. Show all posts
Showing posts with label Hikmah Sidang Akhir. Show all posts

Thursday, August 3, 2017

Hikmah Sidang Akhir: Pandangan pada Edukasi

July 21 yang lalu, aku berhasil menyelesaikan masa perkuliahan. Menyelesaikannya merupakan suatu perjuangan. Bagi seorang anak hasil homeschooling yang mendadak jadi anak swasta, bukan suatu hal yang mudah karena banyak nya penyesuaian kultur yang harus dilalui. Jangan tanya mengenai sidang akhir, it's the worst. Entah mengapa pada hari itu dosen-dosen menyerangku dengan sikap yang sinis dan cukup kasar untuk hanya memberi saran. Ya mungkin juga sih aku nya yang geble di mata mereka.



3 hari kemudian, aku mengupload foto bersama ibu dan menceritakan pandangan kami mengenai edukasi di Indonesia. Melihat tingginya respon terhadap posting tersebut, aku memutuskan untuk membahasnya lebih dalam disini. 100-200 kata lebih dalam.

15 tahun yang lalu setibanya aku dari sekolah, ibu menanyakan suatu pertanyaan yang cukup mengejutkan; "Teteh kalau sekolah international mau gak?". Kondisinya saat itu, aku tidak bisa bahasa inggris. Tidak pernah belajar, tidak pernah bisa. Kedua, aku yang sangat lugu dan tidak mempunyai akal yang lancar menyetujui tawaran ibu. Seorang yang tidak bisa bahasa inggris akan sekolah di sekolah full 24 jam berbahasa inggris. Tidak hanya itu, sekolah nya hanya 3 hari. SIAPA YANG TIDAK MAU?! Alhasil dengan sangat bodoh dan dengan muka planga-plongo, aku hadir di hari pertama sekolah international. Sekolah yang bertempat di gedung perkantoran, berseragam polo shirt saja, tas sekolah nya pakai koper, dan saya yang tidak bisa bahasa inggris. Dengan bermodal 'yes' 'no', akhirnya aku berhasil melalui hari pertama. Setelah setahun menuntut ilmu disana, aku baru tau kalau sekolah itu adalah semi-homeschooling. Yang mengajar ibu-ibu kita sendiri dan yang menilai juga ibu-ibu kita sendiri. Aku juga agak bingung sih kenapa kita yang harus bayar kalau memang kita sendiri yang mengajar-diajar......
Anyways, karena masalah finansial dan harga sekolah yang makin mahal, ibu memutuskan untuk menarik aku dan adikku untuk homeschool murni dirumah. Again, Emma yang lugu dan logika nya belum jalan, ikut saja dengan apapun keputusan ibu. Long story short, 8 tahun aku menjalani homeschool murni. Ibu yang tidak memiliki latar belakang pendidikan tiba-tiba harus berubah menjadi kepala sekolah dan ahli pendidikan. Memasuki tingkat SMP, aku ingat teman-temanku mulai mengeluh mengenai susahnya pelajaran Kimia, Biologi, Fisika. Emma si lugu ini tidak ingat adanya pelajaran itu di rumah.

"Mam kok kita gak pernah belajar Kimia, Biologi, Fisika?" 
"Oh kamu mau?" 
"Habis semuanya begitu aku jadi takut kalau aku gak belajar." 

Percakapan itu adalah 1 dari ribuan percakapan insecure yang aku alami selama homeschooling. Aku banyak tidak belajar pelajaran umum yang dilalui sekolah reguler, dan aku banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang anak-anak sekolah reguler tidak dapatkan. Tanpa disadari, kurikulum yang ibuku buat dengan yang dilalui anak-anak reguler itu berbeda.

"Ya emang nya kamu nanti bakal jadi ahli Kimia?"

Aku ingat itu respon ibu atas keluhan ku. Ibu tidak mau aku mempelajari hal-hal yang tidak akan aku lakukan di kemudian hari. Sejak kecil ibu sudah menantang kami untuk mempunya tujuan hidup. Aku sejak kecil sudah tau bahwa aku akan menjadi seniman. Entah itu pemain teater, penyanyi, pemain piano, atau penari. Dan ibu melihat hal tersebut kuat didalam hidupku. Lalu ia menyusun pelajaran sekolah ku dengan pelajaran yang didominasi oleh Sejarah, Geologi (I'm still very bad at this), dan pelajaran sosial lainnya. Aku pun tumbuh besar banyak melakukan kegiatan menari (I do dance jobs since I was 12), menulis, membuat naskah drama (tapi alay banget jangan dibahas). Dan ibu tidak pernah menghalangi kegiatan-kegiatan ku ini. Ibu mengajari time management antara waktu belajar dengan berkarya. Dengan NEM yang sangat rata-rata, akhirnya aku berada di masa akhir sekolah.

Sebelum mengikuti UAN SMA, ibu menanyakan aku mau kuliah apa. Ayah dengan spontan langsung mengarahkan ku ke broadcasting. Saat itu keluarga kami banyak terlibat di dunia pertelevisian. Seketika itu juga aku menolak tawaran ayah. Aku merasa disitu bukan bidangku, melainkan di dunia tari. Jadi IKJ Seni Tari pilihan pertama ku, dan seketika itu pun permintaan ku ditolah ayah dan ibu. Alasan mereka cukup valid, "pergaulan nya tidak baik." Mungkin mereka melihat aku yang dulu, mudah ditiup angin. Akhirnya pilihan ku jatuh ke Komunikasi. Alasan yang mendukung pilihan itu: Emma suka ngomong. Klasik.
Singkat cerita aku masuk salah satu universitas katolik terkemuka di Jakarta. Masuk situ pun juga karena banyaknya keluarga yang menuntut ilmu disana. Aku benar-benar memiliki kepercayaan minim dengan lembaga pendidikan. Di bangku kuliah pun aku bukan yang paling cemerlang. Pernah sempat di cap "cantik doang otak gak ada", suka berargumen dengan pendapat dosen, lulus hanya yang penting nilai ku baik. Tapi tidak pernah nyaman dengan beberapa mata kuliah nya karena somehow just doesn't fuel me up in my major.
Dalam persiapan daftar sidang, ada proses yang harus kami lalui yaitu pembulatan studi. Kebetulan di proses tersebut kita harus mencantumkan nilai dari masing-masing mata kuliah. Seorang ibu sekretariat mendatangi kami dan melihat hasil-hasil nilai, termasuk punya ku.

"Kok kamu nilai teori nya C? Lah ini juga penulisan ilmiah C. Riset juga C"
" Iya bu, saya memang gak pinter ngafal teori. Sama gak kuat di penulisan ilmiah, apalagi riset"
"Wah nilai C gitu gimana mau jadi komunikator sukses?"
"Ya tinggal kerja yang gak ngerjain teori, penulisan ilmiah sama riset aja bu"
"Gimana mau jadi dosen?"
"Ya saya kan memang gak mau jadi dosen bu" 
-__-

Percakapan paling random, paling aneh, dan yang sangat membuka mata ku. Seselesainya aku berkuliah disana, aku belajar banyak hal. 4 tahun aku dipaksa mengikuti sebuah proses yang sangat baik dalam mendewasakan diriku sendiri. Aku menjadi lebih kuat, lebih antusias, lebih ambisius, lebih berlogika (akhirnya). Namun selama 4 tahun itu juga, aku dipaksa untuk mendapat nilai baik di semua mata kuliah yang diwajibkan bagi ku untuk ambil. Termasuk mata kuliah teoritis, berbau riset dan penulisan ilmiah yang sama sekali bukan bakat ku. Sistem pendidikan Indonesia yang mengukur keberhasilan seseorang berdasarkan angka dan huruf, 10-100 maupun A+ - E. Memang betul, dibutuhkan nilai ukur yang jelas dan pasti. Namun betulkah itu arti dari kesuksesan?

Aku lupa apa saja yang kami perbincangkan, tapi terucap dari ibu ku penyesalan selama mendidik kami. Aku juga lupa apa yang kami bahas sesudahnya, namun yang aku ingat aku menangis.

"Mama boleh ngerasa gagal, tapi gagal itu untuk dipelajari. It doesn't define who you are, Ma."

Aku mungkin bisa merasakan perasaan ibu selama mendidik kami. Dicaci maki orang dianggap tidak mendidik anak dengan becus, tidak memiliki pengalaman sedangkan harus membuktikan aku dan adikku terdidik dengan baik. Kemudian mendengar anaknya sendiri diserang selama sidang hanya karena tidak menguasai tata penulisan ilmiah yang baik serta perhitungan statistik yang benar. Ya mohon maaf, penelitian tidak pernah menjadi minat-bakat aku.
Sedih rasanya melihat ukuran sukses dan masa depan seseorang didasari oleh angka dan huruf belaka.   Bagaimana kalau seorang anak tidak berhasil melewati satu subject tertentu, namun unggul di subject lainnya? Lalu hanya karena satu subject tersebut anak ini tidak dinilai mampu layak menjalani masa depan, disaat mungkin yang dibutuhkan hanya melihat dari sisi lainnya?
16 tahun aku melalui pendidikan dengan dasar yang diajarkan ibu untuk mempercayai talenta yang Tuhan beri. 16 tahun aku di didik dengan model pendidikan sesuai dengan kepribadian dan kemampuan kita masing-masing. Just because I don't ace at certain topics, it doesn't define my . Memang secara ukuran standar di Indonesia, aku bukan termasuk anak yang dianggap "normal" dibandingkan yang lain. Namun dengan talenta yang mungkin berbeda dengan standar nasional ini telah membuat Emma yang dulunya tidak punya arah jelas, menjadi Emma yang memiliki determinasi tinggi. Emma yang insecure karena kegagalan, menjadi Emma yang bangga menghidupi keunikannya.
Ibu mendidik dengan memfokuskan pada nilai-nilai positif dalam diri kami dan mengembangkannya. Menanamkan nilai bahwa bila kita memaksimalkan dan mensyukuri talenta dan bidang-bidang yang Tuhan percayakan, kita akan menjadi utuh. Dengan tidak memaksakan kemampuan anak, dan mengembangkan kesukaan, ibu menjadikan Emma yang sekarang ini.
Dulu aku sempat minder dengan keterbatasan yang aku miliki, of how much I could achieve in what I do. Namun kesuksesan seseorang seharusnya tidak dinilai melalui angka, namun dengan seberapa maksimalnya kita berusaha. Bukan dengan seberapa besar karya seseorang mencapai ekspektasi khalayak ramai, namun seberapa besar karya itu berkembang. After all, bila IQ setiap manusia diambil oleh Yang Kuasa, apa lagi yang dapat kamu andalkan?
© EMMA MONTEZ
Maira Gall