Seorang anak membiasakan dirinya berada dalam kehidupan pencuri akan terbiasa menjadi pencuri.
Seorang ibu membiasakan dirinya dengan gaya hidup mendumel akan terbiasa menjadi ibu-ibu tukang dumel.
Seorang bapak membiasakan dirinya untuk mengatakan "Bapak sayang kamu" kepada anaknya akan terbiasa menjadi bapak yang affectionate.
Aku yang membiasakan diri dengan istilah Kristiani, menjadi terbiasa menjadi orang Kristiani.
Dan pada usia yang baru ini, aku hendak melepas keagamaan ku. I'm losing my religion.
Mungkin kamu pernah membaca tulisanku mengenai bagaimana rasanya menjadi anak pendeta. Banyak pro-kontra yang bermunculan. Satu sisi mengatakan aku terlalu mengkriting suatu individu, lainnya mengatakan dirinya mengerti betul apa yang aku lalui. Sejujurnya, aku pun bingung di posisi mana aku berdiri. Tidak bisa dipungkiri bila sepertinya aku mengkritik, namun juga aku hanya berbagi pengalaman. Namun memasuki musim baru ini, aku sadar. Aku terlalu nyaman dengan status agama ini. Aku mulai terbiasa dengan istilah "Kristiani." Aku banyak berlindung di balik sayap "Kristiani" dalam berbagai keputusan yang aku lakukan.
Agama diciptakan sebagai identitas pengenal, namun aku banyak memakai nya sebagai pembatas untuk mengenal. Semakin Kristiani atau agamawi seseorang, semakin sulit kita untuk mengenal satu sama lain. Aku terbiasa mendoktrin pikiranku "kamu orang Kristen, kamu orang Kristen" sehingga "Kristen" membuat ku lupa dengan nama ku sendiri. Dengan identitas ku sendiri.
"Kristiani" sangat melekat didarah ku hingga aku jadikan alat ukur untuk menilai satu dan yang lain. Sudahkah ia mencapai ukuran tertentu? Layakkah ia? Sanggupkah ia? Layakkah aku? Sanggupkah aku? Pertanyaan itu kian lama kian kencang berteriak di telinga ku. Sungguh bukan maksudku untuk menjadi seperti itu. Namun apakah mungkin karena aku sudah terbiasa dengan label itu? Aku sudah terbiasa menjadi seorang "Kristiani", dan lama kelamaan melupakan "Kristus" dalam "Kristiani" itu sendiri.
Bila agama membuatku membeda-bedakan seorang dengan yang lain, lebih baik aku tidak beragama.
Bila agama membuatku menghakimi satu dengan yang lain, lebih baik aku tidak beragama.
Bila agama membuatku terombang-ambing oleh pemahaman yang satu dengan yang lainnya, lebih baik aku tidak beragama.
Bila agama membuatku tidak ingin berkembang dan berubah menjadi lebih baik, lebih baik aku tidak beragama.
Bila agama membuatku kompromi dibanding toleransi, lebih baik aku tidak beragama.
Bila agama membuatku menuntut dibanding memberi, lebih baik aku tidak beragama.
Bila agama tidak membuatku bergairah mengejar kekekalan, lebih baik aku tidak beragama.
Bila agama membuatku lupa dengan esensi agama itu sendiri, yaitu Tuhan, lebih baik aku tidak beragama.
So yes, I'm losing my religion. I'm losing the barriers, I'm losing the bias, I'm losing labels if I can't embrace the centre of my religion. If it turns me to hating, then I better go without it. If religion cuts all relations, then I better erase it.
I gave up on religion, and I choose Love. I choose Life. I choose Christ.
Gimana dengan kamu?
Showing posts with label #Memasuki22. Show all posts
Showing posts with label #Memasuki22. Show all posts
Thursday, August 24, 2017
Subscribe to:
Posts (Atom)