Waktu itu hari Minggu, gue abis nari sesi pertama dan lagi jeda untuk nunggu sesi kedua mulai. Kebetulan hari itu gue adalah si bontot diantara ber-4. 3 lainnya kakak kakak senior ynag kebetulan udah umur 27-30 yang berhati 17-20 *kikikik*. Entah apa yang awalnya kita lagi bahas, pokoknya we ended up talking about age and its problems. mereka mulai share pengalaman mereka sewaktu kuliah dulu. Mulai dari tugas-tugas numpuk, sleepless nights, pokoknya everything I can relate to. Sampe salah satu dari mereka ngomong gini, "pokoknya pas kamu lulus kuliah tuh pasti rasanya kamu udah tau segalanya. When in fact, you don't. Pas aku umur 27 tahun aja kayak baru sadar kalo aku gak tau apa-apa." Nah mikir tuh gua, umur 27 aja masih berasa naif, lah gimana kita yang 19 tahun coba....
Trus kita mulai ngobrol tentang pernting nya bertumbuh di komunitas yang memang pas umur nya untuk kita. "Pokoknya kalo udah kerja memang bagus nya masuk komunitas yang usia kerja *nama nya di gereja gue YP*. Firman nya tuh bener-bener ngena di problem harian orang kerja."
Gue pikir iya juga sih. Dulu waktu gue SMA berusaha ikut Youth service gitu kan, yang target nya usia-usia kuliah. Gak nyambung pikirannya sama gue. Tapi ketika gue udah kuliah mulailah gue merasa nyambung dengan setiap firmannya. Tapi sadar gak, Tuhan tuh seakan-akan sudah merancang sebuah perjalanan hidup yang sesuai dengan umurnya. Problem anak umur 17 sama 19 pasti beda. Gue gatau anak umur 20an struggles nya apa, tapi yang pasti umur 18-19 itu lagi masa-masa penentuan jati diri.
Gue tuh siapa sih?
Personaliti gue kayak apa sih?
Gue tuh karakternya gimana sih?
Walaupun kesannya gue tuh tau banget arah hidup gue bakalan kemana, I have those moments when I don't even know who I am anymore. Mungkin karena terlalu banyak consume hal-hal yang bisa mempengaruhi kita secara sadar dan tidak sadar. Ditengah kegundahan hati, muncul lah setitik pencerahan. Dari Youth service gue ngundang Behavioural Consultant untuk tes karakter para deputy-deputy (leaders). And so ai mulai ikutan tes nya. Buat yang gatau, karakter, tempramen dan personality orang digambarkan dalam 4 warna:
- Kuning (Sanguin)
- Hijau (Plegmatis)
- Ungu (Melankolis)
- Merah (Koleris)
And guess what gua dapetnya apaan... Kuning dan Ungu. I mean like why.
Jadi gini, kira-kira penjelasan yang gue dapet dari sini:
Sanguin itu katanya superstar. Katanya. They are so popular, they don't even have to try. Which I hate most about being Yellow. Banyak among, jato nya mempersuasi, optimis, enerjik, up-to-date binggits, berate tulus *eaak*, kekanak-kanakkan, etc.
Nah kalo Melankolis, ya everyone knows lah yaa. Bukan mellow. Hahahahaha banyak orang yang kira melankolis = mellow. Tapi sebenernya gak selalu gitu. Melankolis itu perfectionis. Romantis, sensitif, suka detail, setia. Everything dengan perasaan dan feeling.
Setelah ikutin tes itu, Thank God gue jadi ngerti gue itu orang nya kayak apa. Dan let me tell ya, it's not that cool to be yellow. Banyak orang mengagumi orang Sanguin dan berpikir bahwa kalau karakternya Sanguin itu bagus. Padahal sebenernya enggak juga. Jadi Sanguin itu terkadang capek. Terkadang kita sebenernya gamau jadi center of attention. Tapi fate brought us there :(
Sejak tau gue itu Yellow banget (dan juga ungu banget sih sebenernya), gue jadi liat advantage and disadvantage nya. Senengnya kalo butuh perhatian gausah nyari-nyari lagi, gak enaknya ketika lo pingin sendiri, susah banget rasanya. Dorongan hati pingin rame-rame, dan kebanyakan orang pikir orang kuning itu gak bakalan mellow menyendiri. I see the advantage of being Yellow. We cheer people up. And sometimes it cheer us up too. We express the feelings we had but keeping it inside at the same time.
My point is, it is really important to understand what your personality is. It really helps you to grow, and to understand why you feel things, go through the same problem all the time. It helps you to see the full potential that you have. And when you do, you'll know why you had those perks and how you can enjoy it. Dan setelah tau siapa diri gua sebenernya, I understand that no matter how stylish you are, how attractive you look, kalau lo punya personality yang palsuu or a bad management of it, all the beauty langsung kebuang sia-sia bung. Because at the end, it's not when people see you that is important. But the moment they understands you. Of course no one can choose who they want to be, because God created everyone in its best version. But we do have some say in responding to who we are and turning it into the best version of ourselves.
Tuesday, July 1, 2014
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment